Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

ya, di sini saya belajar ...

0 comments

Di sini saya belajar bersabar

Di sini saya belajar ikhlas

Di sini saya belajar untuk tidak hanya menuntut

Di sini saya belajar tidak hanya memikirkan diri sendiri

Di sini saya belajar arti pengabdian

Di sini saya belajar memahami

Di sini saya belajar memberi

Di sini saya belajar berbagi

Di sini saya belajar arti kebersamaan

Di sini saya belajar menikmati sebuah kelelahan

Di sini pula saya tertawa, bekerja, kecewa, marah, bekerja, lelah, dan tertawa lagi

Di sini saya tidak pernah merasa sendiri

Karena ternyata di sini saya menemukan mereka

Teman-teman

Saudara

Guru-guru hidup saya

Terimakasih Ya Allah, telah menuntun saya kesini..

Terimakasih Ya Allah...

0 comments

Saat kita tidak paham maksud Allah, tetaplah memilih percaya…

Saat kita tertekan oleh kekecewaan, tetaplah memilih bersyukur…

Saat rencana hidup berantakan, tetaplah memilih berserah diri…

Saat putus asa melingkupi, tetaplah memilih untuk maju…

Dan apapun yang terjadi pada saat ini, tetaplah PERCAYA, BERSYUKUR, BERUSAHA, & BERSERAH DIRI

Karena Allah sedang merajut kehidupan yang terbaik untuk kita…

Allah, saya yakin dan percaya, Kau mungkin tidak selalu memberi yang saya mau, namun Kau selalu memberi yang saya butuhkan, bahkan sebelum saya memintanya…

Terimakasih Ya Allah, karena selalu ada untukku…

SEMANGAT!! KARENA HIDUP ADALAH BELAJAR

0 comments

Tit tiitt… sebuah SMS masuk ke HP saya setahun lalu. Sms dari adik saya, masih saya simpan hingga sekarang. Berikut isinya:

Bismillahirrohmanirrohim..

HIDUP ADALAH BELAJAR,

Belajar bersyukur meski tak cukup.

Belajar ikhlas meski tak rela.

Belajar taat meski berat.

Belajar memahami meski tak sehati.

Belajar bersabar meski terbebani.

Belajar setia meski tergoda.

Belajar tulus meski terdzolimi.

Belajar, dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang di lautan.

Walau sudah kodrat, hati seperti gelombang laut, pasang -- surut, juga sering terbawa arus.

Maka dari itulah, BELAJAR adalah PILIHAN TERBAIK, meskipun belajar dalam musibah.

Karena sesungguhnya “tiada nikmat istirahat tanpa sebuah kelelahan”

Mari kita terus belajar untuk menjadi ORANG BESAR, bukan menjadi ORANG yang KERDIL..

Fyuuhhh… Berat ya…

Saya juga manusia biasa, masih sering mengeluh,

Mengeluh karena hal-hal kecil, apalagi yang besar.

Mengeluh jika segala sesuatu berjalan diluar rencana.

Mengeluh jika mendapat load kerja berlebihan, melebihi job desk awal.

Mengeluh jika merasa usaha sudah maksimal, namun masih belum bisa mendapatkan yang diinginkan.

Mengeluh kalau kerjaan tidak juga selesai, salah melulu pula.

Mengeluh kalau pengen pulang cepat, tapi tiba-tiba ada undangan rapat mendadak

Mengeluh kalau sudah datang pagi-pagi, tapi mahasiswa pada telat—tugas belum beres pula

Mengeluh karena setiap hari harus naik turun tangga ke lantai lima gara-gara sudah dua minggu lebih lift kampus mati—entah kapan diperbaiki

Mengeluh…

Mengeluh…

Namanya tetap mengeluh, meskipun hanya dalam hati.

Namanya tetap mengeluh, meskipun yang keluar hanya helaan nafas panjang.

Namanya tetap mengeluh, meskipun tugas-tugas yang berat tetap juga dikerjakan.

Lalu apa artinya??

Toh raga sama lelahnya

Mengeluh hanya menambah lelah hati

Tak juga menyelesaikan masalah

Kerjakan, dan ikhlaslah

Kerjakan, dan senyumlah

Kerjakan, dan bersyukurlah

Itu jauh lebih baik

Itu jauh lebih menyenangkan

Karena sesungguhnya dibalik itu semua tersimpan hikmah dan pembelajaran

Semoga…

Bantu saya untuk terus belajar Ya Allah…

Aminnn….

Gambar lucu yang diatas diambil dari sinii

surga (memang sePANTASnya) dibawah telapak kaki ibu

0 comments

Saya tahu, saya kini tahu kenapa surga dibawah telapak kaki Ibu. Bukan Ayah. Walaupun keduanya tak dipungkiri sama-sama berjasa besar dalam hidup kita—seorang anak.

Surga dibawah telapak kaki ibu. Bukan hanya karena Ibulah yang mengandung kita selama 9 bulan, melahirkan kita kedunia dengan taruhan nyawanya, dengan ikhlas menyusui dan membesarkan kita dengan kasih sayang. Mengandung, melahirkan, menyusui. Ikhlas. Tanpa peduli kesakitan. Tanpa peduli kelelahan. Tanpa peduli tubuh yang dulu selalu dirawatnya kini jadi tak indah lagi..

Bukan hanya karena itu…

Seorang Ibu, selalu rela mengorbankan apapun untuk kebaikan anaknya. Di satu tempat, saya melihat seorang ibu rela melepaskan karirnya yang sedang menanjak—eksistensinya—demi menjaga sang anak. Seorang ibu yang lain rela berperan ganda—berlelah-lelah membantu suami mencari nafkah di luar rumah, sekaligus memenuhi kewajibannya sebagai ibu dan istri--mengurus rumah, mengurus anak, mengurus suami. Seorang ibu yang lainnya lagi memutar otak, agar bisa tetap bekerja—mencari tambahan rejeki untuk keluarga, walaupun dari rumah. Tujuannya sama, agar ia selalu bisa memantau tumbuh kembang sang buah hati. Salah seorang sahabat saya ketika kuliah di Bandung adalah seorang wanita muda yang baru menikah. Suaminya kerja di luar kota Bandung sehingga tidak bisa setiap hari pulang. Ternyata tak lama berselang, sahabat saya tersebut hamil. Saya menjadi saksi ketika setiap hari ia—dengan perutnya yang semakin membesar berjalan ke kampus setelah turun dari angkot, sementara di punggungnya tersandang ransel berisi laptop 14” dan buku-buku kuliah yang tidak bisa dibilang ringan. Ketika ia melahirkan, kami sekelas sedang UAS. Setelah melahirkan, beberapa kali teman saya terpaksa mengajak anaknya yang masih sangat kecil ikut kuliah di kampus, karena pengasuhnya sedang sakit. Tak jarang saya memergoki teman saya tersebut memeras air susu di mushola putri saat shalat Dhuhur. “Untuk persediaan air susu besok”, begitu katanya. Tugas-tugas kuliah kami saat itu tak bisa dibilang sedikit, apalagi saat tiba penyelesaian tesis. Lemburan tiap malam sudah menjadi makanan sehari-hari. Bisa dibayangkan repotnya membagi perhatian antara buah hati yang masih kecil dengan jadwal kuliah dan tugas yang sungguh padat. Namun ternyata teman saya tersebut bisa lulus tepat waktu. Dengan nilai yang sangat baik. Hampir tak pernah saya dengar dia mengeluh.

Hebat.

Sungguh, saya sangat kagum pada perjuangannya. Saya yakin perjuangan teman saya tersebut dalam meraih mimpinya tigakali lebih berat (bahkan lebih) daripada perjuangan saya yang masih single—ataupun teman-teman saya lainnya yang sama-sama kuliah lagi—namun profesinya adalah bapak rumah tangga (suami)—bukan seorang Ibu, atau seorang istri yang selain bertanggungjawab menyelesaikan tugas-tugas kuliah juga masih harus hamil-melahirkan-serta bertanggung jawab merawat anak setiap hari tanpa selalu didampingi suaminya.

Sungguh ironis, di belahan bumi lainnya saya melihat seorang Ibu yang sibuk bekerja diluar rumah disalahkan karena sang anak terjerat pergaulan bebas.

Lagi-lagi ironis. Ibu selalu jadi orang pertama yang ‘disalahkan’ ketika seorang anak terjerat masalah—namun biasanya bukan jadi orang pertama yang diberi selamat ketika sang anak berhasil.

Ibu, ibu, hanya Ibu yang selalu berada dalam dilema antara karir dan rumah tangga. Antara fulltime mom atau working mom. Hanya ibu, selalu ibu, bukan ayah.

Hanya ibu yang walaupun kini ketika saya telah dewasa dan sudah bekerja, tetap khawatir akan keadaan dan kesehatan saya dan selalu berpesan, “Makan bergizi, minum vitamin, jangan lupa makan buah, minum susu”. Atau ketika saya pulang, “Ta, nanti balik ke Surabaya mau dibawakan lauk apa??”

Ibuku, malam ini aku kangen ibu… Aku sayang, sayang, sayang Ibu.

Ya Allah, berikanlah selalu kesehatan, umur panjang, dan kebahagiaan pada Ibu dan Bapakku.

Jadikanlah kami, tita-heppy dan ican sebagai anak-anak mereka yang sholeh, berbakti, juga bisa membahagiakan dan membanggakan mereka..

Amiin…

Nb. Sayapun seorang wanita. Saya berharap kelak bisa menjadi seorang Ibu yang baik. Betapapun sulitnya, saya bangga dipilih Allah menjadi seorang wanita dengan segala tanggung jawab yang harus dipikulnya. Karena dibalik kesuksesan seorang anak selalu ada peran Ibunya. Dibalik kesuksesan seorang suami selalu ada peran istrinya--seorang wanita, yang setitik kebaikannya bisa membuat seluruh dunia tersenyum namun sebaliknya setitik keburukannya juga bisa membuat seisi dunia hancur…

Semoga saya mampu memikul tanggung jawab itu nanti…