Merantau

0 comments

Malam ini saya kembali teringat akan sebuah puisi yang pernah saya baca di halaman awal novel negeri lima menara karya A. Fuadi. Kala itu puisi karya Imam Syafii yang mendorong seseorang untuk merantau tersebut terasa benar menyentil hati saya. Terutama karena saat itu saya memang sedang merantau untuk menyelesaikan pendidikan. Berada dalam perantauan yang cukup jauh dari kota kelahiran saya tak jarang membuat saya rindu rumah sehingga ingin cepat-cepat pulang kembali ke rumah.

Okeii.. ini dia puisinya,

Orang pandai dan beradab tak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manusnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang rusak karena diam tertahan

Jika mengalir jernih jika tidak kan keruh menggenang

Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman

Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari ditambang

Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan

Imam Syafii

Dikutip dari novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi

Hari ini saya baca puisi itu sekali lagi, tepat disaat saya kembali berada dalam perantauan. Kali ini bukan untuk menyelesaikan studi, namun dalam rangka membagikan ilmu. Berharap apa yang saya bagikan bisa menjadi manfaat bagi banyak orang, sekaligus menjadi satu amalan baik bagi diri saya.

Saya memang belum pernah merantau terlalu jauh dari rumah, masih di satu pulau: Jawa. Belumlagi menyeberangi selat apalagi samudera. Namun dari perantauan yang tak seberapa jauh itu saya dapat merasakan dalamnya makna dalam puisi tersebut.

Merantau: bisa berarti keluar dari zona kenyamanan utama dalam diri kita, keluarga. Meninggalkan keluarga; ayah, ibu, saudara-saudara yang selalu siap sedia mendampingi kapanpun kita butuhkan, yang selalu mencintai kita tanpa syarat. Berat. Saya yakin itu yang selalu ada dalam benak setiap orang yang baru memulai langkah pertama untuk merantau. Merantau artinya memulai dari titik nol. Sepenuhnya mengandalkan diri sendiri, karena di tempat yang baru itu tak ada lagi ayah, ibu, ataupun saudara yang dahulu biasa diandalkan.

Selalu berusaha mengeluarkan segenap kemampuan untuk survive, menyelesaikan segala masalah sendiri. Agaknya inilah menurut saya yang mengasah jiwa-jiwa perantau sehingga menjadi lebih ‘kuat’ setiap harinya. Pengalaman baru, teman baru, masalah baru tak terasa membuat para perantau menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya. Jati diri yang tak lagi berada dibalik bayang-bayang ayah, ibu, atau keluarga lain yang dahulu mendampingi.

Merantau bagi saya juga memunculkan arti lebih tentang indahnya keluarga. Hidup jauh dari ayah, ibu, dan adik-adik yang kadangkala tak saya sadari arti pentingnya ketika dekat, kini membuat saya lebih lebih dan lebih menghargai arti hadirnya mereka. Rindu, cinta, kasih sayang yang tanpa syarat. Itulah yang kini saya rasakan tentang keluarga. Selalu ada saat dibutuhkan. Kapanpun. Baik diminta ataupun tidak. Saya sadar.. sejauh-jauhnya kita merantau, kita akan selalu bisa pulang pada mereka. Keluarga…

Saya masih ingin merantau. Melihat dan merasakan segala sesuatu yang belum pernah saya lihat dan rasakan hingga saat ini. Mengalami segala pengalaman yang belum pernah saya alami hingga detik ini. Mengenal dan bersaudara dengan berbagai jenis dan karakteristik manusia yang bisa membuka mata dan hati saya akan luasnya dunia. Sungguh saya masih ingin merantau, meskipun ditengah keterbatasan-keterbatasan saya saat ini.

Saya memang ingin merantau. Tapi tak selamanya. Sungguh kemanapun rencana Allah membawa saya kelak, cita-cita terdalam saya tetap adalah pulang. Kembali ketengah orang-orang yang saya cintai. Keluarga. Saya sadar, kebahagiaan sejati bagi saya adalah berada ditengah-tengah mereka, keluarga. Bisa memandang mereka kapanpun saya mau, bercanda bersama, melihat mereka tersenyum, semua itu adalah kebahagiaan sejati untuk saya, mimpi saya yang terdalam. Berbakti pada ayah dan ibu, membahagiakan mereka, bagi saya adalah hal yang tak pernah cukup…

Ps: Jepang adalah salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi. Tak tahu mengapa, hati ini seolah begitu dekat dan terpaut dengan salah satu negara di Asia itu. Entah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau sekedar berlibur, atau tujuan lain… Saya yakin suatu hari saya akan menginjakkan kaki di negeri sakura itu, insya Allah.. (amiin…)

KONSISTENSI

0 comments

Judulnya saya tulis huruf besar semua. KONSISTENSI. Singkat, cuma sebelas huruf. Tapi melakoninya?? Beuuuhh… ngujubileeehh.. Saya masih belajar, terus belajar, dan akan selalu belajar untuk bisa konsisten. Insya Allah.

Entah mengapa, sepertinya saya mengalami masalah dalam hal satu ini. Ya, konsistensi. Dibilang saya plin-plan?? Tidak juga (gak mau ngaku :P ) tapi disebut sebagai 100% konsisten, rasanya juga susah.

Memangnya seberapa gak konsisten sih saya? Sampai level berapa parahnya? Weh.. harus dianalisis nih.. (gayaaa..) Yuk yaa.. analisis beneran nih..

Beberapa inkonsistensi (emang ada ya di kamus??) ehm.. ketidak-konsistenan (aduh yang ini bener ga sih??) yang saya rasakan dalam hidup sebut saja; 1. Konsistensi untuk terus menulis dan mengisi blog (buktinya sejak 2010 jumlah postingan juga masih bisa dihitung jari); 2. Konsistensi untuk selalu bangun malam-tahajjud; 3. Konsistensi untuk selalu langsung sholat setelah denger adzan; 4. Konsistensi untuk ngaji tiap sore; 5. Konsistensi mempertahankan niat cari bahan untuk paper seminar di internet (ujung-ujungnya pasti googling2 gak jelas dan super gak penting, woooiii.. inget2 dedline papermu..); 6. Konsistensi untuk melanjutkan niat bikin materi kuliah setelah nyalain laptop (bukan malah jadi nonton dorama jepang); 7. Konsistensi untuk terus belajar dan praktek freelance di odesk sampai sukses, …. , masih buanyaaaakk lagi rasanya,, ;p ;p

Jiahhhh… kalo itu semua mah namanya males buuuuu… cape deee… -___-

Iya ya.. setelah di-list, baru deh sadar,, yang saya alami itu kemalasan yang menyebabkan ketidak-konsistenan. Bukan tidak konsisten dalam arti sebenarnya.. (nah, emang apa arti sebenarnya?? :P). Maksud saya bukan jenis yang.. mmm.. misalnya setelah nikah bakal gak konsisten hidup bersama suami saya.. (jiaaahh.. jangan sampe deh kalo yang ini.. -__- fyuuhhh.. amit-amit deh).— malah ngelantur…

Oke,oke.. kembali ke masalah saya. Malas. Kemalasan.

Wah.. parah nih,, Penyakit kayanya. Gak bisa gak, harus direparasi, soalnya merugikan diri sendiri. Kapan mau maju kalo kaya gini caranya (sadar gitu.. -__-). Ujung-ujungnya pasti hampir selalu kelabakan di akhir. Panik lah, lembur lah, dan yang paling parah bikin orang-orang gak berdosa disekeliling jadi ikutan panik. -___- Tugas-tugas dan target dedline memang hampir selalu terpenuhi pas endingnya,, tapi prosesnya gak banget. Nyiksa—nyiksa pikiran kalo panik dan nyiksa badan kalo lembur. Hasilnya juga kadang jadi kurang memuaskan. Tapi gimana lagi?? Dedline udah di depan mata.. (no.. no.. jangan salahkan dedline nak.. -__-)

Hayooo… hayooo berubahhhhh…. Harus berubah..

Langkah pertama : Niat dicanangkan, konsisten untuk menjadi anak rajin. Usir kemalasan dalam diri. Motivasi, motivasi : jadi lebih baik setiap harinya.. Camkan di otak : rajin, rajin, rajin, niat, niat, niat, konsisten, konsisten, konsisten…

Yang lebih penting, action!!

Ya… jangan cuma lagi-lagi berhenti di niat…

Alhamdulillah Ya Allah atas rejekiMu...

0 comments

Rejeki itu dari Allah, semata-mata dari Allah. Diberikan kepada siapa-siapa yang Ia kehendaki. Tugas manusia memang berusaha, tetapi tetap Allah yang menentukan. Menentukan seberapa banyak bagian rejeki setiap ummat-Nya, dan kapan saat yang tepat untuk diberikan.

Rejeki itu bukan melulu berupa materi. Rejeki itu bukan cuma diukur dari gaji yang besar. Bukan. Tentu bukan. Masih sangat-sangat-sangaaaaatttt banyak nikmat-Nya yang tercurah yang bahkan harganya jauh-jauh-jauh melebihi seluruh materi yang bisa kita bayangkan...

Dilahirkan di keluarga yang selalu mendukung, itu sudah pasti rejeki. Dapat kesempatan kuliah sampai setinggi ini, itu juga rejeki. Lulus cepet karena dapat pembimbing tesis yang super duper baik, Alhamdulillah itu rejeki. Akhirnya dapat kesempatan kerja yang sesuai cita-cita, Ya Allah.. Alhamdulillah ini rejeki saya. Bisa berkarya, berbagi ilmu, memberikan manfaat untuk orang lain, tentu tak semua orang seberuntung ini. Punya mahasiswa yang ‘memaksa’ untuk terus-terus-terus belajar dan menggali lagi ilmu, Alhamdulillah itu juga rejeki. Bisa bertemu, berkenalan, dan bekerja sama dengan orang-orang yang se-visi, yang menyenangkan dan baik, sungguh suatu anugerah bagi saya. Sehat wal afiat, dan di-jam segini (7.39 pm) sudah bisa nyantai di kos yang nyaman sambil makan gado-gado dan persiapan nonton dorama, sudah tentu itu nikmatnya rejeki… Punya jam kerja fleksibel, yang bisa pulang kapanpun asal tugas sudah beres—sehingga hari Jumat insya Allah nggak perlu ngampus dan bisa langsung pulang, Tuhan.. itupun pasti juga rejekiMu untukku…

Alhamdulillah….

Hmmmm… kurang apa lagi aku ini, kenapa masih seringkali mengeluh, menghela nafas panjang. Astaghfirullah..

Allah.. hampir selalu Kau berikan apa yang kupinta. Hampir selalu, karena sering kali Kau ganti dengan yang lebih baik pada saat yang tepat—walaupun di awal kadang aku tak menyadarinya...

Lalu.. mau minta apa lagi aku?? Malu. Sungguh malu.

Alhamdulillah ya Allah atas rejeki dan nikmatMu hari ini.. atas nikmat dan rejekiMu di hari-hari kemarin.. atas nikmat dan rejekiMu semenjak nafasku hadir di dunia ini…

Maha Besar Engkau dengan segala kuasaMu..

Rejeki itu dari Allah, semata-mata dari Allah. Diberikan kepada siapa-siapa yang Ia kehendaki. Tugas manusia memang berusaha, tetapi tetap Allah yang menentukan. Menentukan seberapa banyak bagian rejeki setiap ummat-Nya, dan kapan saat yang tepat untuk diberikan.

Rejeki itu bukan melulu berupa materi. Rejeki itu bukan cuma diukur dari gaji yang besar. Bukan. Tentu bukan. Masih sangat-sangat-sangaaaaatttt banyak nikmat-Nya yang tercurah yang bahkan harganya jauh-jauh-jauh melebihi seluruh materi yang bisa kita bayangkan...

Dilahirkan di keluarga yang selalu mendukung, itu sudah pasti rejeki. Dapat kesempatan kuliah sampai setinggi ini, itu juga rejeki. Lulus cepet karena dapat pembimbing tesis yang super duper baik, Alhamdulillah itu rejeki. Akhirnya dapat kesempatan kerja yang sesuai cita-cita, Ya Allah.. Alhamdulillah ini rejeki saya. Bisa berkarya, berbagi ilmu, memberikan manfaat untuk orang lain, tentu tak semua orang seberuntung ini. Punya mahasiswa yang ‘memaksa’ untuk terus-terus-terus belajar dan menggali lagi ilmu, Alhamdulillah itu juga rejeki. Bisa bertemu, berkenalan, dan bekerja sama dengan orang-orang yang se-visi, yang menyenangkan dan baik, sungguh suatu anugerah bagi saya. Sehat wal afiat, dan di-jam segini (7.39 pm) sudah bisa nyantai di kos yang nyaman sambil makan gado-gado dan persiapan nonton dorama, sudah tentu itu nikmatnya rejeki… Punya jam kerja fleksibel, yang bisa pulang kapanpun asal tugas sudah beres—sehingga hari Jumat insya Allah nggak perlu ngampus dan bisa langsung pulang, Tuhan.. itupun pasti juga rejekiMu untukku…

Alhamdulillah….

Hmmmm… kurang apa lagi aku ini, kenapa masih seringkali mengeluh, menghela nafas panjang. Astaghfirullah..

Allah.. hampir selalu Kau berikan apa yang kupinta. Hampir selalu, karena sering kali Kau ganti dengan yang lebih baik pada saat yang tepat—walaupun di awal kadang aku tak menyadarinya...

Lalu.. mau minta apa lagi aku?? Malu. Sungguh malu.

Alhamdulillah ya Allah atas rejeki dan nikmatMu hari ini.. atas nikmat dan rejekiMu di hari-hari kemarin.. atas nikmat dan rejekiMu semenjak nafasku hadir di dunia ini…

Maha Besar Engkau dengan segala kuasaMu..